“IBNU SINA”
A. Biografi
Ibnu Sina
Nama lengkap beliau ialah Abu Ali al
Husain ibn Abdullah ibn Sina dan lebih dikenali di masyarakat Eropah dengan
sebutan “Avicenna”. Nama panggilan lain beliau selain Ibnu Sina adalah Abu Ali.
Ibnu sina dilahirkan di Afsyinah, sebuah kampung yang terletak di Bukhara yakni
Khirmitan (Republik Uzbekistan) tahun 370 H / 980 M. Ayah Ibnu Sina adalah
seorang gubernur Samanite yang ditugaskan di Bukhara. Beliau berasal dari
Balakh kemudian berpindah ke Bukhara pada zaman pemerintahan Al-Amir Nuh bin
Mansur.
Sejak kecil beliau telah memperlihatkan
kepintarannya yang cemerlang dan kemajuan yang luar biasa dalam menerima
pendidikan. Ibnu Sina kecil mulai belajar al-Quran pada usia 5 tahun. Sejak
usia lima tahun itu Ibnu Sina telah mendapatkan pendidikan al-Quran dan sastra
dari ayahnya. Pada usia 10 tahun ia sudah hafal al-Quran, menguasai ilmu
sastera, tasawuf, dan geometri.
Belum genap berusia 16 tahun, Ibnu Sina
sudah menguasai ilmu perobatan. Semasa itulah dia bermula bisa merawat orang
yang sakit. Kemudian nama Ibnu Sina tersebar di belahan dunia, bahkan di negeri
jiran. Banyak dari negeri jiran datang bertemu
beliau untuk berbincang dan penduduk dari berbagai negeri pun datang untuk
berguru dan berobat pada beliau. Ibnu Sina tak pernah berhenti belajar demi
mengembangkan keilmuannya. Ketekunannya dalam mempelajari berbagai disiplin
ilmu menjadikannya pakar dalam berbagai ilmu.
Di usia 17 tahun, di tengah usahanya
untuk menyembuhkan penyakit baginda Raja Nuh bin Mansur, ia terus mengembangkan
ilmunya. Sebagai penghargaan raja atas jasanya yang berjaya menyembuhkan raja.
Baginda meminta Ibnu Sina menetap di istana selama proses penyembuhan. Tapi
Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk
mengunjungi sebuah perpustakaan istana. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang
luas ditambah lagi semangat belajarnya yang tinggi, beberapa karyapun telah
dilahirkan. Beliau adalah salah seorang genius yang mahir dalam berbagai cabang
ilmu. Beliaulah orang yang membuat ensiklopedia terkemuka dan pakar dalam
bidang agama, perubatan, falsafah, logik, matematik, astronomi dan muzik.
Selain itu beliau juga seorang pustakawan dan pakar psikiatri yang handal. “Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan
semua bidang ilmu”
-Ibnu Sina-.
Kemudian pada usia 21 tahun, Ibnu Sina membuat
buku pertamanya, yakni Al-Majmu‘ ketika berada di Khawarazm didalam buku
tersebut terkandung berbagai ilmu pengetahuan yang lengkap.
Ketika terjadi kekacauan di Kerajaan
As-Samani, Ibnu Sina mula melakukan pengembaraan. Beliau keluar dari Bukhara
menuju Karkang. Dari situ beliau berpindah ke Jarjan dan Khurasan. Namun
demikian, pada akhirnya Ibnu Sina meninggalkan kedua-dua negara tersebut menuju
ke Dahastan. Setelah itu, Ibnu Sina kembali ke Jarjan dan bertemu dengan
Juzzani. Di Jarjan, Ibnu Sina menjadi menteri . Meski demikian, beliau tidak
pernah berhenti menulis, mengajar, dan mengarang. Kegiatannya ketika malam hari
beliau mengajar dan pagi hari beliau pergi ke Kementerian tempat beliau ditugaskan.
Buku yang ditulis Ibnu Sina lebih kurang 250 judul, termasuk kitab, essai dan
artikel dalam bidang matematik, akhlak, fiqih, perobatan, botani dan falsafah.
Buku-buku yang pernah dikarang oleh Ibnu Sina,
dihimpun dalam buku besar Essai de Bibliographie Avicenna yang ditulis oleh
Pater Dominician di Kaherah. Karya-karya beliau semasa hidupnya antara lain:
1) Kitab
Al Majmu ‘, tentang ilmu pengetahuan yang lengkap ditulis saat beliau berusia
21 tahun.
2) Kitab
Asy-Syifa, (The Books of Recovery / The Books of Remedy), tentang cara-cara
pengobatan beserta obatnya (18 jilid). Kitab ini di dunia pengobatan menjadi
ensiklopedia falsafah pengobatan. Dalam bahasa latin kitab ini dikenali dengan
nama “Sanatio”.
3) Kitab
Al Qanun Fit Thibb (Canon of Medicine). tentang cara pengobatan yang sistematik
(16 jilid). Memuatkan kenyataan yang tegas bahwa darah mengalir terus-menerus
dalam suatu lingkaran dan tidak pernah berhenti. Buku ini sejak zaman Dinasti
Han di China telah menjadi rujukan standard karya-karya perobatan cina.
4) Kitab
Remedies for the Heart. Mengandung sajak-sajak pengobatan yang menguraikan
tentang 760 jenis penyakit beserta cara pengobatannya.
5) Kitab
An Najah, tentang falsafah.
6) Penemuan
tentang anatomi tubuh. Ibnu Sina percaya bahwa setiap tubuh manusia terdiri
daripada empat unsur yaitu tanah, air, api dan angin. Keempat unsur itu memberi
sifat lembap, sejuk, panas, dan kering serta senantiasa bergantung pada unsur
lain yang terdapat pada alam ini.
7) Penemuan
tentang pengobatan psikomosaik. Beliau mengembangkan ilmu diagnosis melalui
denyutan jantung (pulse diagnosis) untuk mengetahui secara pasti keseimbangan
emosi seseorang.
8) Penemuan
di bidang kimia tentang logam. Beliu menerangkan bahwa benda-benda logam
sebenarnya berbeda antara satu dengan yang lain secara khusus. Setiap logam
membentuk dengan sendirinya dengan berbagai jenis. Beliau dianggap penerus dari
perkembangan ilmu kimia yang telah dirintis oleh Jabir Ibnu Hayyan (Bapa Kimia Muslim Pertama).
9) Penemuan
di bidang geografi tentang asal usul lembah.
10) Penemuan
tentang peredaran darah. Beliau mengemukakan bahwa “Darah mengalir terus
menerus dalam suatu lingkaran dan tidak pernah berhenti.”
11) Kitab Fi
Aqsamil Ulumil Aqliya (On the Division of the Rational Sciences) tentang pembagian
ilmu-ilmu rasional. Kitab An Nayat (Book of Deliverence) buku tentang
kebahagian jiwa (merupakan sebuah buku psikologi).
12) Kitab
Risalah As Siyasah (Book of Politics) tentang politik.
13) Penemuan di
bidang bahan pengobatan.
14) Penemuan
dalam bidang psikoterapi.
15) Kitab Al
Musiqa, tentang muzik.
16) Kitab Al
Mantiq, tentang logika. Buku ini dipersembahkan untuk Abu Hasan Sahil.
17) Kitab Uyun
Al Hikmah (10 jilid) tentang falsafah. Ensiklopedia Britanica menyebutkan bahwa
kemungkinan besar buku ini telah hilang.
18) Kitab Al
Hikmah El Masyriqiyyin, tentang falsafah timur.
19) Kitab Al
Insyaf tentang keadilan sejati.
20) Kitab Al
Isyarat Wat Tanbihat, tentang prinsip ketuhanan dan sembahyang.
21) Kitab Al
Isaguji (The Isagoge), tentang logika.
22) Kitab Fi Ad
Din (Liber de Mineralibus) tentang mineral.
23) Kitab Al
Qasidah Al Aniyyah, tentang prosa.
24) Kitab
Sadidiya, tentang pengobatan.
25) Kitab
Risalah At Thayar, tentang karangan roman.
26) Kitab Danesh
Nameh, tentang falsafah.
27) Kitab
Mujir. Kabir Wa Saghir, tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap.
28) Salama wa
Absal, Hayy ibn Yaqzan, al-Ghurfatul Gharabiyyah (Pengasingan di Barat) dan
Risalatul Thayar (Risalah Burung).
B. Penemuannya
yang berhubungan dibidang sains
Salah satu penemuannya yang berkenaan
dengan sains :
Ó Bahasan
mengenai konsep waktu, serta hubungannya dengan gerak dan materi dalam
perspektif Ibnu Sina. Dalam hal ini adanya upaya bahwa sains tidak terlepas
dari filsafat (metafisika). Ibnu Sina membahas “waktu” (zaman) dalam magnum
Opus yang berjudul Al-Syifa. Namun, zaman dalam hal ini sesungguhnya lebih
tepat diterjemahkan sebagai “periode”. Karena dalam pandangan Ibnu Sina yang
mengawali waktu adalah gerak yang merupakan implikasi logis dari potensi dan
aktualitas.
Gerak menurut Ibnu Sina adalah
kesempurnaan pertama dari suatu potensi dari sisi potensinya untuk teraktual
pada kesempurnaan pertama itu. Dengan kata lain, Ibnu Sina meyakini bahwa gerak
adalah keluarnya maujud dari kondisi potensial menjadi aktual secara bertahap.
Lebih lanjut terkait dengan maqulat, Ibnu Sina menyatakan bahwa :
·
“Gerak mewujud pada empat maqulat, yakni
kualitas, kuantitas, ruang, dan posisi”.
·
“Gerak selalu terkait dengan enam hal:
subjek yang bergerak, sebab penggerak, tempat yang menjadi lokasi gerak, asal gerak,
tujuan gerak, dan waktu.”
·
“Waktu ada jika gerak ada, di mana gerak
hanya ada pada empat tempat aksidental, bukan pada substansi.” Terkait dengan
pernyataan tersebut, Mulla Shadra pada perkembangannya menyempurnakan pemikiran
Ibnu Sina. Shadra berpandangan bahwa gerak (harakah) tidak hanya terbatas pada
aksiden saja, tetapi juga substansi yang lebih dikenal dengan “harakah
al-jauhariyah”.
·
“Waktu hanya ada di dunia materi”.
Pandangan ini juga pada akhirnya dikritisi oleh filosof setelah Ibnu Sina,
termasuk Shadra yang berkeyakinan bahwa waktu dan gerak tidak hanya pada
tataran materi, tapi juga immateri. Ini merupakan konsekuensi logis dari
pandangan harakah al-jauhariyah.
·
“Raga, bentuk, dan materi adalah
substansi”. Jadi, bisa dikatakan bahwa materi adalah potensi yang berupa
substansi yang teraktualisasi melalui Surrah dalam Al-Qur’an.
·
“Raga terkomposisi oleh materi yang
bersifat potensial dan bentuk yang bersifat aktual”.
Dari
pemaparan tersebut lebih terkait dengan gerak dan waktu, dalam kaca mata Ibnu
Sina, mengindentifikasikan bahwa waktu tidak ada apabila tidak ada gerak.
Pertama kali yang mewujud adalah ‘potensi’ kemudian ‘aktual’ (apabila ada yang
mengaktualisasikan), lalu muncul ‘tujuan’ dan ‘materi’ yang meniscayakan adanya
‘gerak’, pada akhirnya berimplikasi pada eksistensi ‘waktu’. Alasan logis
mengapa keberadaan diawali dengan potensi dan aktual adalah karena posisinya
sebagai ma’lul (akibat) yang niscaya membutuhkan illat (sebab). Selain itu, zat
selain Causa Prima (Sebab Penggerak) adalah terbatas, maka membutuhkan proses
dalam mewujud.
Dalam
al-Syifa Ibn Sina sudah memetakan terlebih jauh awal tentang ragam pandangan
hakikat waktu, di antaranya sebagai berikut:
v Tidak
ada waktu (penganut empirisme).
v Waktu
hanya ilusi/konstruk mental (dianut oleh Immanuel dan Fritjof Capra).
v Waktu
adalah suatu substansi yang berdiri sendiri (Newton)
v Waktu
adalah relasi antara berbagai entitas (Leibniz, Einstein, dan Mario Bunge)
v Waktu
adalah aksiden (Leibniz, Einstein, dan Bunge)
v Sains
modern (fisika, baik mekanika klasik Newtonian ataupun fisika modern) selalu
membahas waktu dalam konteks relasi benda-benda fisik, bukan waktu sebagai
substansi yang berdiri sendiri, ataupun sebagai ilusi yang dikonstruksi mental
manusia, apalagi menafikan waktu sama sekali. Hal ini sudah dibuktikan oleh
Einstein dalam teori relativitas umumnya. Menurut teori ini, ruang dan waktu
yang digabungkan menjadi ruang-waktu ditentukan oleh distribusi raga (bodies)
dan medan (fields), bukan oleh gravitasi (sebagaimana menurut fisika klasik);
dengan persamaan utama “G = kT“. G menunjukan tensor geometri, dan T menunjukan
tensor materi. Jika T = 0 (kondisi vakum), maka fisika (sains) menyerah karena
tidak bisa membuktikan pada eksperimentasi inderawi; dalam hal ini, metafisika
mengambil peranan penting.
Filsafat waktu Ibnu Sina (penganut fisika Aristotelian) sesungguhnya memiliki relasi dengan sains modern (fisika). Faktanya, perkembangan fisika modern ini menunjukkan bahwa tidak ada diperbedaan antara fisika dan metafisika. Dalam artian, para saintis modern telah mengomfirmasi realitas immateri, di samping realitas materi. Jadi, “fisika Aristotelian telah menjadi metafisika di era modern dalam pandangan dunia. Namun, ontologi Ibnu Sina lebih dulu, lengkap yang berkaitan dengan sains modern. Filsafat Ibnu Sina bersangkutan dalam proses reintegrasi antara fisika dan metafisika.
Filsafat waktu Ibnu Sina (penganut fisika Aristotelian) sesungguhnya memiliki relasi dengan sains modern (fisika). Faktanya, perkembangan fisika modern ini menunjukkan bahwa tidak ada diperbedaan antara fisika dan metafisika. Dalam artian, para saintis modern telah mengomfirmasi realitas immateri, di samping realitas materi. Jadi, “fisika Aristotelian telah menjadi metafisika di era modern dalam pandangan dunia. Namun, ontologi Ibnu Sina lebih dulu, lengkap yang berkaitan dengan sains modern. Filsafat Ibnu Sina bersangkutan dalam proses reintegrasi antara fisika dan metafisika.
Ó Beliau
membahas dalam buku pertamanya yang membahas tulang (biologi) lebih spesifiknya
tentang patah tulang. Diantaranya bahasan yang ada pada bukunya itu ialah
faktor yang dapat memperlambat penyembuhan patah tulang. Faktor tersebut
diantaranya seperti kurangnya pemakaian pelat di lokasi tulang yang patah,
aktifitas yang berlebihan, kekurangan darah (anemia), dan adanya penyakit
didalam tubuh. Dengan karya-karyanya
Ibnu Sina dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern. Dan karya-karyanya selalu
dibandingkan dengan karya ilmuan kedokteran yakni Galen.
Jadi, berbanggalah guys yang semuslim karena dasar-dasar penemuan orang barat itu berawal dari ilmuan muslim.
Jadi, berbanggalah guys yang semuslim karena dasar-dasar penemuan orang barat itu berawal dari ilmuan muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar