Kamis, 24 Oktober 2013

Biografi Tokoh Muslim : Ibnu Sina



“IBNU SINA”


A.    Biografi Ibnu Sina


Nama lengkap beliau ialah Abu Ali al Husain ibn Abdullah ibn Sina dan lebih dikenali di masyarakat Eropah dengan sebutan “Avicenna”. Nama panggilan lain beliau selain Ibnu Sina adalah Abu Ali. Ibnu sina dilahirkan di Afsyinah, sebuah kampung yang terletak di Bukhara yakni Khirmitan (Republik Uzbekistan) tahun 370 H / 980 M. Ayah Ibnu Sina adalah seorang gubernur Samanite yang ditugaskan di Bukhara. Beliau berasal dari Balakh kemudian berpindah ke Bukhara pada zaman pemerintahan Al-Amir Nuh bin Mansur.

Sejak kecil beliau telah memperlihatkan kepintarannya yang cemerlang dan kemajuan yang luar biasa dalam menerima pendidikan. Ibnu Sina kecil mulai belajar al-Quran pada usia 5 tahun. Sejak usia lima tahun itu Ibnu Sina telah mendapatkan pendidikan al-Quran dan sastra dari ayahnya. Pada usia 10 tahun ia sudah hafal al-Quran, menguasai ilmu sastera, tasawuf, dan geometri.

Belum genap berusia 16 tahun, Ibnu Sina sudah menguasai ilmu perobatan. Semasa itulah dia bermula bisa merawat orang yang sakit. Kemudian nama Ibnu Sina tersebar di belahan dunia, bahkan di negeri jiran.  Banyak dari negeri jiran datang bertemu beliau untuk berbincang dan penduduk dari berbagai negeri pun datang untuk berguru dan berobat pada beliau. Ibnu Sina tak pernah berhenti belajar demi mengembangkan keilmuannya. Ketekunannya dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu menjadikannya pakar dalam berbagai ilmu.

Di usia 17 tahun, di tengah usahanya untuk menyembuhkan penyakit baginda Raja Nuh bin Mansur, ia terus mengembangkan ilmunya. Sebagai penghargaan raja atas jasanya yang berjaya menyembuhkan raja. Baginda meminta Ibnu Sina menetap di istana selama proses penyembuhan. Tapi Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan istana. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang luas ditambah lagi semangat belajarnya yang tinggi, beberapa karyapun telah dilahirkan. Beliau adalah salah seorang genius yang mahir dalam berbagai cabang ilmu. Beliaulah orang yang membuat ensiklopedia terkemuka dan pakar dalam bidang agama, perubatan, falsafah, logik, matematik, astronomi dan muzik. Selain itu beliau juga seorang pustakawan dan pakar psikiatri yang handal. “Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu” -Ibnu Sina-. Kemudian pada usia 21 tahun, Ibnu Sina membuat buku pertamanya, yakni Al-Majmu‘ ketika berada di Khawarazm didalam buku tersebut terkandung berbagai ilmu pengetahuan yang lengkap.

Ketika terjadi kekacauan di Kerajaan As-Samani, Ibnu Sina mula melakukan pengembaraan. Beliau keluar dari Bukhara menuju Karkang. Dari situ beliau berpindah ke Jarjan dan Khurasan. Namun demikian, pada akhirnya Ibnu Sina meninggalkan kedua-dua negara tersebut menuju ke Dahastan. Setelah itu, Ibnu Sina kembali ke Jarjan dan bertemu dengan Juzzani. Di Jarjan, Ibnu Sina menjadi menteri . Meski demikian, beliau tidak pernah berhenti menulis, mengajar, dan mengarang. Kegiatannya ketika malam hari beliau mengajar dan pagi hari beliau pergi ke Kementerian tempat beliau ditugaskan. Buku yang ditulis Ibnu Sina lebih kurang 250 judul, termasuk kitab, essai dan artikel dalam bidang matematik, akhlak, fiqih, perobatan, botani dan falsafah.

Buku-buku yang pernah dikarang oleh Ibnu Sina, dihimpun dalam buku besar Essai de Bibliographie Avicenna yang ditulis oleh Pater Dominician di Kaherah. Karya-karya beliau semasa hidupnya antara lain:
1)      Kitab Al Majmu ‘, tentang ilmu pengetahuan yang lengkap ditulis saat beliau berusia 21 tahun.
2)      Kitab Asy-Syifa, (The Books of Recovery / The Books of Remedy), tentang cara-cara pengobatan beserta obatnya (18 jilid). Kitab ini di dunia pengobatan menjadi ensiklopedia falsafah pengobatan. Dalam bahasa latin kitab ini dikenali dengan nama “Sanatio”.
3)      Kitab Al Qanun Fit Thibb (Canon of Medicine). tentang cara pengobatan yang sistematik (16 jilid). Memuatkan kenyataan yang tegas bahwa darah mengalir terus-menerus dalam suatu lingkaran dan tidak pernah berhenti. Buku ini sejak zaman Dinasti Han di China telah menjadi rujukan standard karya-karya perobatan cina.
4)      Kitab Remedies for the Heart. Mengandung sajak-sajak pengobatan yang menguraikan tentang 760 jenis penyakit beserta cara pengobatannya.
5)      Kitab An Najah, tentang falsafah.
6)      Penemuan tentang anatomi tubuh. Ibnu Sina percaya bahwa setiap tubuh manusia terdiri daripada empat unsur yaitu tanah, air, api dan angin. Keempat unsur itu memberi sifat lembap, sejuk, panas, dan kering serta senantiasa bergantung pada unsur lain yang terdapat pada alam ini.
7)      Penemuan tentang pengobatan psikomosaik. Beliau mengembangkan ilmu diagnosis melalui denyutan jantung (pulse diagnosis) untuk mengetahui secara pasti keseimbangan emosi seseorang.
8)      Penemuan di bidang kimia tentang logam. Beliu menerangkan bahwa benda-benda logam sebenarnya berbeda antara satu dengan yang lain secara khusus. Setiap logam membentuk dengan sendirinya dengan berbagai jenis. Beliau dianggap penerus dari perkembangan ilmu kimia yang telah dirintis oleh Jabir Ibnu Hayyan (Bapa Kimia Muslim Pertama).
9)      Penemuan di bidang geografi tentang asal usul lembah.
10)  Penemuan tentang peredaran darah. Beliau mengemukakan bahwa “Darah mengalir terus menerus dalam suatu lingkaran dan tidak pernah berhenti.”
11)  Kitab Fi Aqsamil Ulumil Aqliya (On the Division of the Rational Sciences) tentang pembagian ilmu-ilmu rasional. Kitab An Nayat (Book of Deliverence) buku tentang kebahagian jiwa (merupakan sebuah buku psikologi).
12)  Kitab Risalah As Siyasah (Book of Politics) tentang politik.
13)  Penemuan di bidang bahan pengobatan.
14)  Penemuan dalam bidang psikoterapi.
15)  Kitab Al Musiqa, tentang muzik.
16)  Kitab Al Mantiq, tentang logika. Buku ini dipersembahkan untuk Abu Hasan Sahil.
17)  Kitab Uyun Al Hikmah (10 jilid) tentang falsafah. Ensiklopedia Britanica menyebutkan bahwa kemungkinan besar buku ini telah hilang.
18)  Kitab Al Hikmah El Masyriqiyyin, tentang falsafah timur.
19)  Kitab Al Insyaf tentang keadilan sejati.
20)  Kitab Al Isyarat Wat Tanbihat, tentang prinsip ketuhanan dan sembahyang.
21)  Kitab Al Isaguji (The Isagoge), tentang logika.
22)  Kitab Fi Ad Din (Liber de Mineralibus) tentang mineral.
23)  Kitab Al Qasidah Al Aniyyah, tentang prosa.
24)  Kitab Sadidiya, tentang pengobatan.
25)  Kitab Risalah At Thayar, tentang karangan roman.
26)  Kitab Danesh Nameh, tentang falsafah.
27)  Kitab Mujir. Kabir Wa Saghir, tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap.
28)  Salama wa Absal, Hayy ibn Yaqzan, al-Ghurfatul Gharabiyyah (Pengasingan di Barat) dan Risalatul Thayar (Risalah Burung).
B.     Penemuannya yang berhubungan dibidang sains 


Salah satu penemuannya yang berkenaan dengan sains :
Ó Bahasan mengenai konsep waktu, serta hubungannya dengan gerak dan materi dalam perspektif Ibnu Sina. Dalam hal ini adanya upaya bahwa sains tidak terlepas dari filsafat (metafisika). Ibnu Sina membahas “waktu” (zaman) dalam magnum Opus yang berjudul Al-Syifa. Namun, zaman dalam hal ini sesungguhnya lebih tepat diterjemahkan sebagai “periode”. Karena dalam pandangan Ibnu Sina yang mengawali waktu adalah gerak yang merupakan implikasi logis dari potensi dan aktualitas.

Gerak menurut Ibnu Sina adalah kesempurnaan pertama dari suatu potensi dari sisi potensinya untuk teraktual pada kesempurnaan pertama itu. Dengan kata lain, Ibnu Sina meyakini bahwa gerak adalah keluarnya maujud dari kondisi potensial menjadi aktual secara bertahap. Lebih lanjut terkait dengan maqulat, Ibnu Sina menyatakan bahwa :
·         “Gerak mewujud pada empat maqulat, yakni kualitas, kuantitas, ruang, dan posisi”.
·         “Gerak selalu terkait dengan enam hal: subjek yang bergerak, sebab penggerak, tempat yang menjadi lokasi gerak, asal gerak, tujuan gerak, dan waktu.”
·         “Waktu ada jika gerak ada, di mana gerak hanya ada pada empat tempat aksidental, bukan pada substansi.” Terkait dengan pernyataan tersebut, Mulla Shadra pada perkembangannya menyempurnakan pemikiran Ibnu Sina. Shadra berpandangan bahwa gerak (harakah) tidak hanya terbatas pada aksiden saja, tetapi juga substansi yang lebih dikenal dengan “harakah al-jauhariyah”.
·         “Waktu hanya ada di dunia materi”. Pandangan ini juga pada akhirnya dikritisi oleh filosof setelah Ibnu Sina, termasuk Shadra yang berkeyakinan bahwa waktu dan gerak tidak hanya pada tataran materi, tapi juga immateri. Ini merupakan konsekuensi logis dari pandangan harakah al-jauhariyah.
·         “Raga, bentuk, dan materi adalah substansi”. Jadi, bisa dikatakan bahwa materi adalah potensi yang berupa substansi yang teraktualisasi melalui Surrah dalam Al-Qur’an.
·         “Raga terkomposisi oleh materi yang bersifat potensial dan bentuk yang bersifat aktual”.

Dari pemaparan tersebut lebih terkait dengan gerak dan waktu, dalam kaca mata Ibnu Sina, mengindentifikasikan bahwa waktu tidak ada apabila tidak ada gerak. Pertama kali yang mewujud adalah ‘potensi’ kemudian ‘aktual’ (apabila ada yang mengaktualisasikan), lalu muncul ‘tujuan’ dan ‘materi’ yang meniscayakan adanya ‘gerak’, pada akhirnya berimplikasi pada eksistensi ‘waktu’. Alasan logis mengapa keberadaan diawali dengan potensi dan aktual adalah karena posisinya sebagai ma’lul (akibat) yang niscaya membutuhkan illat (sebab). Selain itu, zat selain Causa Prima (Sebab Penggerak) adalah terbatas, maka membutuhkan proses dalam mewujud.
Dalam al-Syifa Ibn Sina sudah memetakan terlebih jauh awal tentang ragam pandangan hakikat waktu, di antaranya sebagai berikut:
v  Tidak ada waktu (penganut empirisme).
v  Waktu hanya ilusi/konstruk mental (dianut oleh Immanuel dan Fritjof Capra).
v  Waktu adalah suatu substansi yang berdiri sendiri (Newton)
v  Waktu adalah relasi antara berbagai entitas (Leibniz, Einstein, dan Mario Bunge)
v  Waktu adalah aksiden (Leibniz, Einstein, dan Bunge)
v  Sains modern (fisika, baik mekanika klasik Newtonian ataupun fisika modern) selalu membahas waktu dalam konteks relasi benda-benda fisik, bukan waktu sebagai substansi yang berdiri sendiri, ataupun sebagai ilusi yang dikonstruksi mental manusia, apalagi menafikan waktu sama sekali. Hal ini sudah dibuktikan oleh Einstein dalam teori relativitas umumnya. Menurut teori ini, ruang dan waktu yang digabungkan menjadi ruang-waktu ditentukan oleh distribusi raga (bodies) dan medan (fields), bukan oleh gravitasi (sebagaimana menurut fisika klasik); dengan persamaan utama “G = kT“. G menunjukan tensor geometri, dan T menunjukan tensor materi. Jika T = 0 (kondisi vakum), maka fisika (sains) menyerah karena tidak bisa membuktikan pada eksperimentasi inderawi; dalam hal ini, metafisika mengambil peranan penting.
Filsafat waktu Ibnu Sina (penganut fisika Aristotelian) sesungguhnya memiliki relasi dengan sains modern (fisika). Faktanya, perkembangan fisika modern ini menunjukkan bahwa tidak ada diperbedaan antara fisika dan metafisika. Dalam artian, para saintis modern telah mengomfirmasi realitas immateri, di samping realitas materi. Jadi, “fisika Aristotelian telah menjadi metafisika di era modern dalam pandangan dunia. Namun, ontologi Ibnu Sina lebih dulu, lengkap yang berkaitan dengan sains modern. Filsafat Ibnu Sina bersangkutan dalam proses reintegrasi antara fisika dan metafisika.
Ó Beliau membahas dalam buku pertamanya yang membahas tulang (biologi) lebih spesifiknya tentang patah tulang. Diantaranya bahasan yang ada pada bukunya itu ialah faktor yang dapat memperlambat penyembuhan patah tulang. Faktor tersebut diantaranya seperti kurangnya pemakaian pelat di lokasi tulang yang patah, aktifitas yang berlebihan, kekurangan darah (anemia), dan adanya penyakit didalam tubuh.  Dengan karya-karyanya Ibnu Sina dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern. Dan karya-karyanya selalu dibandingkan dengan karya ilmuan kedokteran yakni Galen.

Jadi, berbanggalah guys yang semuslim karena dasar-dasar penemuan orang barat itu berawal dari ilmuan muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar