Isra’ Mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis
sama sekali tidak ada dalam kajian Isra’ Mi’raj. Namun, Isra’ Mi’raj
mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek
aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’
Mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir
mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.
Mari kita mendudukkan masalah Isra’ Mi’raj sebagai mana adanya yang
diceritakan di dalam Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kemudian
sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan
Isra’ Mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam
mengambil hikmah peringatan Isra’ Mi’raj adalah menggali inspirasi
saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan
menyempurnakan ibadah.
Kisah dalam Al Qur’an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang Isra’: “Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang Mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18: “Dan
sesungguhnya dia (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) telah
melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di
Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal.
(Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu
selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan
tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian
tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul Muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak
terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau
makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu
hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam
Al Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana
Sidratul Muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan Mi’raj dijelaskan di dalam
hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang shahih, didapati rangkaian
kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi,
lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan
iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan Buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya
sejauh pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari
Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dua rakaat di Baitul Maqdis,
lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan
segelas susu; Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memilih susu. Kata
malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau.”
Dengan Buraq pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan
perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang
dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli
neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di
langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada
Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Harun di langit ke
lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh.
Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat
shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak
akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha
didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari Sidratul Muntaha dilihatnya pula
empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik
(dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga
gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun
berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat
engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang
dijelaskan pula dalam Al Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu
pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.
Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran
Nabi Musa, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta keringanan dan
diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya
diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan
lagi, “Aku telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan
menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah
meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah
shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan
kejadian-kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang
fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun
terdapat di dalamnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pergi
dengan jasad fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu
yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti
pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pergi sampai ke surga. Juga
ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia.
Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan menolak khamr atau madu. Ini
benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu’min semua kejadian itu benar
diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya
(ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan
pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai
ujian bagi manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai
pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis,
aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka
tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan
lainnya).
Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa Isra’ Mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau
mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan
dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al Qur’an. Bila
kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang
melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di
atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa’ atau samawat)
berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar,
yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang
bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan
benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al Qur’an tidak selalu
menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al Qur’an
ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak
terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….”
Jadi ‘tujuh langit’ lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan
benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai
lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, …
sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ Mi’raj? Mungkin ada orang
mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu
ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke
empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan
planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada
orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai
saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus),
tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah Isra’ Mi’raj bukanlah pengertian langit
secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena
fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat.
Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ Mi’raj adalah alam ghaib
yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia.
Hanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berkesempatan
mengetahuinya. Isra’ Mi’raj adalah mu’jizat yang hanya diberikan Allah
kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu
Isra’ Mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang
antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari
Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj
adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya,
IPTEK tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan
dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa
kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan
keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa
itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus
mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya
dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga
dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta
satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan
waktu. Dalam kisah Isra’ Mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana
“Buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada
di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara
detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam
perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus
masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit
dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2)
Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun,
(6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada
di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah
kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu
adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar.
Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang,
dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah
menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi
(ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi
dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih
tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di
bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua (bidang) berbentuk U.
Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung
lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang
berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke
ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua,
tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari
dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak
dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa
melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi
tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi
dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal
itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah
tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai
tempat karena tak dibatas oleh ruang.
Rasulullah bersama jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga
Rasulullah dapat melihat Jibril dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18).
Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya,
tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks istra’ Mi’raj pun
bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi
tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik
maupun non-fisik.
Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat
perjalanan Isra’ Mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia
sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai
bahwa Isra’ Mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji
keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah
shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya
(ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan
penglihatan (saat Isra’ Mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu,
melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ektra dimensi sekadar pendekatan
sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ Mi’raj, walau
belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai
sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam.
Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal
yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal.
Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan
dikhotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains
tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka
peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain Isra’ Mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal
ibadah. Makna penting Isra’ Mi’raj bagi ummat Islam ada pada
keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini
menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat
mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia
sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan
oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat
fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela
kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa
setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al
Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang
lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan Mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna
ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan
bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk
menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat
Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah
kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains
astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat
bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi
astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi
matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah
kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak
lagi direpotkan harus melihat langsung fenonema cahaya matahari atau
bayangannya setiap akan shalat. Kini semua ummat Islam Indonesia, apa
pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis
dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk
ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal
Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan
astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab)
maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari
raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan
metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria
astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria
astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan
awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat
dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa
tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal
Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan.
Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat
Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ Mi’raj pun mengajarkan upaya
menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan
Rasullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5
kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi
pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk
mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh
memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk
mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu
yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan
kesepakatan ada ada ketentraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan
ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fithri, shalat hari raya,
shaum di bulan Syawal, shaum Arafah)
Isra’ Mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam
memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan
pentingnya shalat lima waktu.
Prof. DR. Thomas Djamaluddin
Jumat, 25 Oktober 2013
Kamis, 24 Oktober 2013
Biografi Tokoh Muslim : Ibnu Sina
“IBNU SINA”
A. Biografi
Ibnu Sina
Nama lengkap beliau ialah Abu Ali al
Husain ibn Abdullah ibn Sina dan lebih dikenali di masyarakat Eropah dengan
sebutan “Avicenna”. Nama panggilan lain beliau selain Ibnu Sina adalah Abu Ali.
Ibnu sina dilahirkan di Afsyinah, sebuah kampung yang terletak di Bukhara yakni
Khirmitan (Republik Uzbekistan) tahun 370 H / 980 M. Ayah Ibnu Sina adalah
seorang gubernur Samanite yang ditugaskan di Bukhara. Beliau berasal dari
Balakh kemudian berpindah ke Bukhara pada zaman pemerintahan Al-Amir Nuh bin
Mansur.
Sejak kecil beliau telah memperlihatkan
kepintarannya yang cemerlang dan kemajuan yang luar biasa dalam menerima
pendidikan. Ibnu Sina kecil mulai belajar al-Quran pada usia 5 tahun. Sejak
usia lima tahun itu Ibnu Sina telah mendapatkan pendidikan al-Quran dan sastra
dari ayahnya. Pada usia 10 tahun ia sudah hafal al-Quran, menguasai ilmu
sastera, tasawuf, dan geometri.
Belum genap berusia 16 tahun, Ibnu Sina
sudah menguasai ilmu perobatan. Semasa itulah dia bermula bisa merawat orang
yang sakit. Kemudian nama Ibnu Sina tersebar di belahan dunia, bahkan di negeri
jiran. Banyak dari negeri jiran datang bertemu
beliau untuk berbincang dan penduduk dari berbagai negeri pun datang untuk
berguru dan berobat pada beliau. Ibnu Sina tak pernah berhenti belajar demi
mengembangkan keilmuannya. Ketekunannya dalam mempelajari berbagai disiplin
ilmu menjadikannya pakar dalam berbagai ilmu.
Di usia 17 tahun, di tengah usahanya
untuk menyembuhkan penyakit baginda Raja Nuh bin Mansur, ia terus mengembangkan
ilmunya. Sebagai penghargaan raja atas jasanya yang berjaya menyembuhkan raja.
Baginda meminta Ibnu Sina menetap di istana selama proses penyembuhan. Tapi
Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk
mengunjungi sebuah perpustakaan istana. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang
luas ditambah lagi semangat belajarnya yang tinggi, beberapa karyapun telah
dilahirkan. Beliau adalah salah seorang genius yang mahir dalam berbagai cabang
ilmu. Beliaulah orang yang membuat ensiklopedia terkemuka dan pakar dalam
bidang agama, perubatan, falsafah, logik, matematik, astronomi dan muzik.
Selain itu beliau juga seorang pustakawan dan pakar psikiatri yang handal. “Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan
semua bidang ilmu”
-Ibnu Sina-.
Kemudian pada usia 21 tahun, Ibnu Sina membuat
buku pertamanya, yakni Al-Majmu‘ ketika berada di Khawarazm didalam buku
tersebut terkandung berbagai ilmu pengetahuan yang lengkap.
Ketika terjadi kekacauan di Kerajaan
As-Samani, Ibnu Sina mula melakukan pengembaraan. Beliau keluar dari Bukhara
menuju Karkang. Dari situ beliau berpindah ke Jarjan dan Khurasan. Namun
demikian, pada akhirnya Ibnu Sina meninggalkan kedua-dua negara tersebut menuju
ke Dahastan. Setelah itu, Ibnu Sina kembali ke Jarjan dan bertemu dengan
Juzzani. Di Jarjan, Ibnu Sina menjadi menteri . Meski demikian, beliau tidak
pernah berhenti menulis, mengajar, dan mengarang. Kegiatannya ketika malam hari
beliau mengajar dan pagi hari beliau pergi ke Kementerian tempat beliau ditugaskan.
Buku yang ditulis Ibnu Sina lebih kurang 250 judul, termasuk kitab, essai dan
artikel dalam bidang matematik, akhlak, fiqih, perobatan, botani dan falsafah.
Buku-buku yang pernah dikarang oleh Ibnu Sina,
dihimpun dalam buku besar Essai de Bibliographie Avicenna yang ditulis oleh
Pater Dominician di Kaherah. Karya-karya beliau semasa hidupnya antara lain:
1) Kitab
Al Majmu ‘, tentang ilmu pengetahuan yang lengkap ditulis saat beliau berusia
21 tahun.
2) Kitab
Asy-Syifa, (The Books of Recovery / The Books of Remedy), tentang cara-cara
pengobatan beserta obatnya (18 jilid). Kitab ini di dunia pengobatan menjadi
ensiklopedia falsafah pengobatan. Dalam bahasa latin kitab ini dikenali dengan
nama “Sanatio”.
3) Kitab
Al Qanun Fit Thibb (Canon of Medicine). tentang cara pengobatan yang sistematik
(16 jilid). Memuatkan kenyataan yang tegas bahwa darah mengalir terus-menerus
dalam suatu lingkaran dan tidak pernah berhenti. Buku ini sejak zaman Dinasti
Han di China telah menjadi rujukan standard karya-karya perobatan cina.
4) Kitab
Remedies for the Heart. Mengandung sajak-sajak pengobatan yang menguraikan
tentang 760 jenis penyakit beserta cara pengobatannya.
5) Kitab
An Najah, tentang falsafah.
6) Penemuan
tentang anatomi tubuh. Ibnu Sina percaya bahwa setiap tubuh manusia terdiri
daripada empat unsur yaitu tanah, air, api dan angin. Keempat unsur itu memberi
sifat lembap, sejuk, panas, dan kering serta senantiasa bergantung pada unsur
lain yang terdapat pada alam ini.
7) Penemuan
tentang pengobatan psikomosaik. Beliau mengembangkan ilmu diagnosis melalui
denyutan jantung (pulse diagnosis) untuk mengetahui secara pasti keseimbangan
emosi seseorang.
8) Penemuan
di bidang kimia tentang logam. Beliu menerangkan bahwa benda-benda logam
sebenarnya berbeda antara satu dengan yang lain secara khusus. Setiap logam
membentuk dengan sendirinya dengan berbagai jenis. Beliau dianggap penerus dari
perkembangan ilmu kimia yang telah dirintis oleh Jabir Ibnu Hayyan (Bapa Kimia Muslim Pertama).
9) Penemuan
di bidang geografi tentang asal usul lembah.
10) Penemuan
tentang peredaran darah. Beliau mengemukakan bahwa “Darah mengalir terus
menerus dalam suatu lingkaran dan tidak pernah berhenti.”
11) Kitab Fi
Aqsamil Ulumil Aqliya (On the Division of the Rational Sciences) tentang pembagian
ilmu-ilmu rasional. Kitab An Nayat (Book of Deliverence) buku tentang
kebahagian jiwa (merupakan sebuah buku psikologi).
12) Kitab
Risalah As Siyasah (Book of Politics) tentang politik.
13) Penemuan di
bidang bahan pengobatan.
14) Penemuan
dalam bidang psikoterapi.
15) Kitab Al
Musiqa, tentang muzik.
16) Kitab Al
Mantiq, tentang logika. Buku ini dipersembahkan untuk Abu Hasan Sahil.
17) Kitab Uyun
Al Hikmah (10 jilid) tentang falsafah. Ensiklopedia Britanica menyebutkan bahwa
kemungkinan besar buku ini telah hilang.
18) Kitab Al
Hikmah El Masyriqiyyin, tentang falsafah timur.
19) Kitab Al
Insyaf tentang keadilan sejati.
20) Kitab Al
Isyarat Wat Tanbihat, tentang prinsip ketuhanan dan sembahyang.
21) Kitab Al
Isaguji (The Isagoge), tentang logika.
22) Kitab Fi Ad
Din (Liber de Mineralibus) tentang mineral.
23) Kitab Al
Qasidah Al Aniyyah, tentang prosa.
24) Kitab
Sadidiya, tentang pengobatan.
25) Kitab
Risalah At Thayar, tentang karangan roman.
26) Kitab Danesh
Nameh, tentang falsafah.
27) Kitab
Mujir. Kabir Wa Saghir, tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap.
28) Salama wa
Absal, Hayy ibn Yaqzan, al-Ghurfatul Gharabiyyah (Pengasingan di Barat) dan
Risalatul Thayar (Risalah Burung).
B. Penemuannya
yang berhubungan dibidang sains
Salah satu penemuannya yang berkenaan
dengan sains :
Ó Bahasan
mengenai konsep waktu, serta hubungannya dengan gerak dan materi dalam
perspektif Ibnu Sina. Dalam hal ini adanya upaya bahwa sains tidak terlepas
dari filsafat (metafisika). Ibnu Sina membahas “waktu” (zaman) dalam magnum
Opus yang berjudul Al-Syifa. Namun, zaman dalam hal ini sesungguhnya lebih
tepat diterjemahkan sebagai “periode”. Karena dalam pandangan Ibnu Sina yang
mengawali waktu adalah gerak yang merupakan implikasi logis dari potensi dan
aktualitas.
Gerak menurut Ibnu Sina adalah
kesempurnaan pertama dari suatu potensi dari sisi potensinya untuk teraktual
pada kesempurnaan pertama itu. Dengan kata lain, Ibnu Sina meyakini bahwa gerak
adalah keluarnya maujud dari kondisi potensial menjadi aktual secara bertahap.
Lebih lanjut terkait dengan maqulat, Ibnu Sina menyatakan bahwa :
·
“Gerak mewujud pada empat maqulat, yakni
kualitas, kuantitas, ruang, dan posisi”.
·
“Gerak selalu terkait dengan enam hal:
subjek yang bergerak, sebab penggerak, tempat yang menjadi lokasi gerak, asal gerak,
tujuan gerak, dan waktu.”
·
“Waktu ada jika gerak ada, di mana gerak
hanya ada pada empat tempat aksidental, bukan pada substansi.” Terkait dengan
pernyataan tersebut, Mulla Shadra pada perkembangannya menyempurnakan pemikiran
Ibnu Sina. Shadra berpandangan bahwa gerak (harakah) tidak hanya terbatas pada
aksiden saja, tetapi juga substansi yang lebih dikenal dengan “harakah
al-jauhariyah”.
·
“Waktu hanya ada di dunia materi”.
Pandangan ini juga pada akhirnya dikritisi oleh filosof setelah Ibnu Sina,
termasuk Shadra yang berkeyakinan bahwa waktu dan gerak tidak hanya pada
tataran materi, tapi juga immateri. Ini merupakan konsekuensi logis dari
pandangan harakah al-jauhariyah.
·
“Raga, bentuk, dan materi adalah
substansi”. Jadi, bisa dikatakan bahwa materi adalah potensi yang berupa
substansi yang teraktualisasi melalui Surrah dalam Al-Qur’an.
·
“Raga terkomposisi oleh materi yang
bersifat potensial dan bentuk yang bersifat aktual”.
Dari
pemaparan tersebut lebih terkait dengan gerak dan waktu, dalam kaca mata Ibnu
Sina, mengindentifikasikan bahwa waktu tidak ada apabila tidak ada gerak.
Pertama kali yang mewujud adalah ‘potensi’ kemudian ‘aktual’ (apabila ada yang
mengaktualisasikan), lalu muncul ‘tujuan’ dan ‘materi’ yang meniscayakan adanya
‘gerak’, pada akhirnya berimplikasi pada eksistensi ‘waktu’. Alasan logis
mengapa keberadaan diawali dengan potensi dan aktual adalah karena posisinya
sebagai ma’lul (akibat) yang niscaya membutuhkan illat (sebab). Selain itu, zat
selain Causa Prima (Sebab Penggerak) adalah terbatas, maka membutuhkan proses
dalam mewujud.
Dalam
al-Syifa Ibn Sina sudah memetakan terlebih jauh awal tentang ragam pandangan
hakikat waktu, di antaranya sebagai berikut:
v Tidak
ada waktu (penganut empirisme).
v Waktu
hanya ilusi/konstruk mental (dianut oleh Immanuel dan Fritjof Capra).
v Waktu
adalah suatu substansi yang berdiri sendiri (Newton)
v Waktu
adalah relasi antara berbagai entitas (Leibniz, Einstein, dan Mario Bunge)
v Waktu
adalah aksiden (Leibniz, Einstein, dan Bunge)
v Sains
modern (fisika, baik mekanika klasik Newtonian ataupun fisika modern) selalu
membahas waktu dalam konteks relasi benda-benda fisik, bukan waktu sebagai
substansi yang berdiri sendiri, ataupun sebagai ilusi yang dikonstruksi mental
manusia, apalagi menafikan waktu sama sekali. Hal ini sudah dibuktikan oleh
Einstein dalam teori relativitas umumnya. Menurut teori ini, ruang dan waktu
yang digabungkan menjadi ruang-waktu ditentukan oleh distribusi raga (bodies)
dan medan (fields), bukan oleh gravitasi (sebagaimana menurut fisika klasik);
dengan persamaan utama “G = kT“. G menunjukan tensor geometri, dan T menunjukan
tensor materi. Jika T = 0 (kondisi vakum), maka fisika (sains) menyerah karena
tidak bisa membuktikan pada eksperimentasi inderawi; dalam hal ini, metafisika
mengambil peranan penting.
Filsafat waktu Ibnu Sina (penganut fisika Aristotelian) sesungguhnya memiliki relasi dengan sains modern (fisika). Faktanya, perkembangan fisika modern ini menunjukkan bahwa tidak ada diperbedaan antara fisika dan metafisika. Dalam artian, para saintis modern telah mengomfirmasi realitas immateri, di samping realitas materi. Jadi, “fisika Aristotelian telah menjadi metafisika di era modern dalam pandangan dunia. Namun, ontologi Ibnu Sina lebih dulu, lengkap yang berkaitan dengan sains modern. Filsafat Ibnu Sina bersangkutan dalam proses reintegrasi antara fisika dan metafisika.
Filsafat waktu Ibnu Sina (penganut fisika Aristotelian) sesungguhnya memiliki relasi dengan sains modern (fisika). Faktanya, perkembangan fisika modern ini menunjukkan bahwa tidak ada diperbedaan antara fisika dan metafisika. Dalam artian, para saintis modern telah mengomfirmasi realitas immateri, di samping realitas materi. Jadi, “fisika Aristotelian telah menjadi metafisika di era modern dalam pandangan dunia. Namun, ontologi Ibnu Sina lebih dulu, lengkap yang berkaitan dengan sains modern. Filsafat Ibnu Sina bersangkutan dalam proses reintegrasi antara fisika dan metafisika.
Ó Beliau
membahas dalam buku pertamanya yang membahas tulang (biologi) lebih spesifiknya
tentang patah tulang. Diantaranya bahasan yang ada pada bukunya itu ialah
faktor yang dapat memperlambat penyembuhan patah tulang. Faktor tersebut
diantaranya seperti kurangnya pemakaian pelat di lokasi tulang yang patah,
aktifitas yang berlebihan, kekurangan darah (anemia), dan adanya penyakit
didalam tubuh. Dengan karya-karyanya
Ibnu Sina dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern. Dan karya-karyanya selalu
dibandingkan dengan karya ilmuan kedokteran yakni Galen.
Jadi, berbanggalah guys yang semuslim karena dasar-dasar penemuan orang barat itu berawal dari ilmuan muslim.
Jadi, berbanggalah guys yang semuslim karena dasar-dasar penemuan orang barat itu berawal dari ilmuan muslim.
Puisi-puisi Cinta
CINTA
Karya : NurIs
Diriku...
Terdiam membeku
Terteduk aneh menerpa dengan tiba-tiba
Pikiran kosong pun menemani
S'lalu terbayangkan sosok ciptaan Tuhan
Dan,
Terdengar bisikan kata-kata tak ku mengerti
Ku lihat ...
Dibola matanya, terpancar kasih
Senyum manis, hiasi bibirnya
canda tawa, terbayang slalu daripadanya
Taatapan matanya, begitu ramah
Dan,
Tak bisa kupungkiri
Tatapanku s'lalu padanya
CINTA UNTUK SAHABAT
Karya : NurIs
Ku meneteskan air mata
Tanpa Sandiwara
Ku seperti mati
Dalam luapan api
Ku merasa sakit ...
Dalam sakit yang membara
Hatiku pedih ...
Seperti bumi terpisah dengan langit
Ku merasa rapuh ...
Seperti dedaunan yang kering
Tanpa dirimu ...
Ku seperti pasangan kekasih yang terpisah
Ku merasa kehilangan ...
Kehilangan cinta sejati
Darimu ...
Sahabat ...
Belajar dari Filosofi Meludah
Belajarlah kehidupan dari filosofi meludah, guys. Emang apa sih filosofi meludah itu?? Aneh sekali tabi'atnya kebalikan dari keran air??. Maksudnya ialah jika semakin besar membuka mulut maka semakin susah meludah tapi kalau kecil saja mulut kita terbuka maka mudah sekali ludah tersebut melesat keluar. coba praktekan kalau tak percaya!!!
nah, didunia ini terkadang ada yang seperti filosofi meludah. semakin ngebet, semakin pengen, semakin maksa, semakin ngaku suka, dan sebagainya. Maka dia akan semakin menjauh dan tidak terjangkau olehmu. Tapi saat dijalani dengan tulus, tidak berharap banyak maka urusan akan lancar.
_Tere Liye
nah, didunia ini terkadang ada yang seperti filosofi meludah. semakin ngebet, semakin pengen, semakin maksa, semakin ngaku suka, dan sebagainya. Maka dia akan semakin menjauh dan tidak terjangkau olehmu. Tapi saat dijalani dengan tulus, tidak berharap banyak maka urusan akan lancar.
_Tere Liye
Langganan:
Komentar (Atom)
