Minggu, 17 November 2013

Belajar dari Filosofi Air Jangan Filosofi Batu

Kenapa kita harus belajar dari filosofi air? knpa gak batu?
ciri yang pertama adalah mengalir dengan penuh kelenturan. kelenturan bukanlah kelemahan, kelenturan justru sumber kekuatan. Air yang mengalir disungai dalam keadaan normal tidak memaksa penghalang seperti batu atau batang pohon. Air tetap saja melewatinya tanpa memaksa. ini berarti justru dengan kelenturan air bisa melewati tantangan yang dihadapannya. Yang kedua dari air adalah sifat air laut dan air sumur. yang telah kita ketahui air laut lebih banyak daripada air sungai, karena posisi laut yang berada dibawah. dari sifat itu air mencerminkan ia harus bersikap rendah hati dan melayani bukan sombong dan tinggi hati. Yang ketiga adalah air kolam tenang menjadi cerminan. Jadi kita hendaknya bercermin dari air kolam yang mengajari bahwa kita harus berada dalam ketenangan ketika menghadapi persoalan-persoalan. Yang keempat mengalir menuju tempat yang paling dasar. Artinya tindakan maupun cara berfikir hendaknya kembali kepada tujuan dasar yaitu peduli kepada sesama. dan yang terakhir adalah bergerak naik secara merata, karena jika air dituangkan ke tempat apapun pasti naiknya akan bersamaan.
sedangkan batu, jika 2 buah batu digabungkan dengan 2 batu yang lain hasilnya adalah tetap saja 4 batu yang terpisah. jika kita belajar dalam filosofi batu maka hasilnya adalah sebuah persaingan, pertengkaran, bukannya kesepakatan dan persatuan. bahkan setiap saat bisa menghasilkan percikan api seperti batu tersebut.

Jumat, 25 Oktober 2013

Isra Mi'raj ada kaitannya dengan sains?

Isra’ Mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian Isra’ Mi’raj. Namun, Isra’ Mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’ Mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.

Mari kita mendudukkan masalah Isra’ Mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan Isra’ Mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan Isra’ Mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.

Kisah dalam Al Qur’an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang Isra’: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang Mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18: “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul Muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana Sidratul Muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan Mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang shahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan Buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau.”
Dengan Buraq pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari Sidratul Muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu’min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa Isra’ Mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al Qur’an. Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al Qur’an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi ‘tujuh langit’ lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ Mi’raj? Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah Isra’ Mi’raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ Mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ Mi’raj adalah mu’jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu

Isra’ Mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, IPTEK tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ Mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “Buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak dibatas oleh ruang.
Rasulullah bersama jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks istra’ Mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.
Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra’ Mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa Isra’ Mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat Isra’ Mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ektra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ Mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikhotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain Isra’ Mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting Isra’ Mi’raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan Mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenonema cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua ummat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ Mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ada ketentraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fithri, shalat hari raya, shaum di bulan Syawal, shaum Arafah)
Isra’ Mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.
Prof. DR. Thomas Djamaluddin

Kamis, 24 Oktober 2013

Biografi Tokoh Muslim : Ibnu Sina



“IBNU SINA”


A.    Biografi Ibnu Sina


Nama lengkap beliau ialah Abu Ali al Husain ibn Abdullah ibn Sina dan lebih dikenali di masyarakat Eropah dengan sebutan “Avicenna”. Nama panggilan lain beliau selain Ibnu Sina adalah Abu Ali. Ibnu sina dilahirkan di Afsyinah, sebuah kampung yang terletak di Bukhara yakni Khirmitan (Republik Uzbekistan) tahun 370 H / 980 M. Ayah Ibnu Sina adalah seorang gubernur Samanite yang ditugaskan di Bukhara. Beliau berasal dari Balakh kemudian berpindah ke Bukhara pada zaman pemerintahan Al-Amir Nuh bin Mansur.

Sejak kecil beliau telah memperlihatkan kepintarannya yang cemerlang dan kemajuan yang luar biasa dalam menerima pendidikan. Ibnu Sina kecil mulai belajar al-Quran pada usia 5 tahun. Sejak usia lima tahun itu Ibnu Sina telah mendapatkan pendidikan al-Quran dan sastra dari ayahnya. Pada usia 10 tahun ia sudah hafal al-Quran, menguasai ilmu sastera, tasawuf, dan geometri.

Belum genap berusia 16 tahun, Ibnu Sina sudah menguasai ilmu perobatan. Semasa itulah dia bermula bisa merawat orang yang sakit. Kemudian nama Ibnu Sina tersebar di belahan dunia, bahkan di negeri jiran.  Banyak dari negeri jiran datang bertemu beliau untuk berbincang dan penduduk dari berbagai negeri pun datang untuk berguru dan berobat pada beliau. Ibnu Sina tak pernah berhenti belajar demi mengembangkan keilmuannya. Ketekunannya dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu menjadikannya pakar dalam berbagai ilmu.

Di usia 17 tahun, di tengah usahanya untuk menyembuhkan penyakit baginda Raja Nuh bin Mansur, ia terus mengembangkan ilmunya. Sebagai penghargaan raja atas jasanya yang berjaya menyembuhkan raja. Baginda meminta Ibnu Sina menetap di istana selama proses penyembuhan. Tapi Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan istana. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang luas ditambah lagi semangat belajarnya yang tinggi, beberapa karyapun telah dilahirkan. Beliau adalah salah seorang genius yang mahir dalam berbagai cabang ilmu. Beliaulah orang yang membuat ensiklopedia terkemuka dan pakar dalam bidang agama, perubatan, falsafah, logik, matematik, astronomi dan muzik. Selain itu beliau juga seorang pustakawan dan pakar psikiatri yang handal. “Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu” -Ibnu Sina-. Kemudian pada usia 21 tahun, Ibnu Sina membuat buku pertamanya, yakni Al-Majmu‘ ketika berada di Khawarazm didalam buku tersebut terkandung berbagai ilmu pengetahuan yang lengkap.

Ketika terjadi kekacauan di Kerajaan As-Samani, Ibnu Sina mula melakukan pengembaraan. Beliau keluar dari Bukhara menuju Karkang. Dari situ beliau berpindah ke Jarjan dan Khurasan. Namun demikian, pada akhirnya Ibnu Sina meninggalkan kedua-dua negara tersebut menuju ke Dahastan. Setelah itu, Ibnu Sina kembali ke Jarjan dan bertemu dengan Juzzani. Di Jarjan, Ibnu Sina menjadi menteri . Meski demikian, beliau tidak pernah berhenti menulis, mengajar, dan mengarang. Kegiatannya ketika malam hari beliau mengajar dan pagi hari beliau pergi ke Kementerian tempat beliau ditugaskan. Buku yang ditulis Ibnu Sina lebih kurang 250 judul, termasuk kitab, essai dan artikel dalam bidang matematik, akhlak, fiqih, perobatan, botani dan falsafah.

Buku-buku yang pernah dikarang oleh Ibnu Sina, dihimpun dalam buku besar Essai de Bibliographie Avicenna yang ditulis oleh Pater Dominician di Kaherah. Karya-karya beliau semasa hidupnya antara lain:
1)      Kitab Al Majmu ‘, tentang ilmu pengetahuan yang lengkap ditulis saat beliau berusia 21 tahun.
2)      Kitab Asy-Syifa, (The Books of Recovery / The Books of Remedy), tentang cara-cara pengobatan beserta obatnya (18 jilid). Kitab ini di dunia pengobatan menjadi ensiklopedia falsafah pengobatan. Dalam bahasa latin kitab ini dikenali dengan nama “Sanatio”.
3)      Kitab Al Qanun Fit Thibb (Canon of Medicine). tentang cara pengobatan yang sistematik (16 jilid). Memuatkan kenyataan yang tegas bahwa darah mengalir terus-menerus dalam suatu lingkaran dan tidak pernah berhenti. Buku ini sejak zaman Dinasti Han di China telah menjadi rujukan standard karya-karya perobatan cina.
4)      Kitab Remedies for the Heart. Mengandung sajak-sajak pengobatan yang menguraikan tentang 760 jenis penyakit beserta cara pengobatannya.
5)      Kitab An Najah, tentang falsafah.
6)      Penemuan tentang anatomi tubuh. Ibnu Sina percaya bahwa setiap tubuh manusia terdiri daripada empat unsur yaitu tanah, air, api dan angin. Keempat unsur itu memberi sifat lembap, sejuk, panas, dan kering serta senantiasa bergantung pada unsur lain yang terdapat pada alam ini.
7)      Penemuan tentang pengobatan psikomosaik. Beliau mengembangkan ilmu diagnosis melalui denyutan jantung (pulse diagnosis) untuk mengetahui secara pasti keseimbangan emosi seseorang.
8)      Penemuan di bidang kimia tentang logam. Beliu menerangkan bahwa benda-benda logam sebenarnya berbeda antara satu dengan yang lain secara khusus. Setiap logam membentuk dengan sendirinya dengan berbagai jenis. Beliau dianggap penerus dari perkembangan ilmu kimia yang telah dirintis oleh Jabir Ibnu Hayyan (Bapa Kimia Muslim Pertama).
9)      Penemuan di bidang geografi tentang asal usul lembah.
10)  Penemuan tentang peredaran darah. Beliau mengemukakan bahwa “Darah mengalir terus menerus dalam suatu lingkaran dan tidak pernah berhenti.”
11)  Kitab Fi Aqsamil Ulumil Aqliya (On the Division of the Rational Sciences) tentang pembagian ilmu-ilmu rasional. Kitab An Nayat (Book of Deliverence) buku tentang kebahagian jiwa (merupakan sebuah buku psikologi).
12)  Kitab Risalah As Siyasah (Book of Politics) tentang politik.
13)  Penemuan di bidang bahan pengobatan.
14)  Penemuan dalam bidang psikoterapi.
15)  Kitab Al Musiqa, tentang muzik.
16)  Kitab Al Mantiq, tentang logika. Buku ini dipersembahkan untuk Abu Hasan Sahil.
17)  Kitab Uyun Al Hikmah (10 jilid) tentang falsafah. Ensiklopedia Britanica menyebutkan bahwa kemungkinan besar buku ini telah hilang.
18)  Kitab Al Hikmah El Masyriqiyyin, tentang falsafah timur.
19)  Kitab Al Insyaf tentang keadilan sejati.
20)  Kitab Al Isyarat Wat Tanbihat, tentang prinsip ketuhanan dan sembahyang.
21)  Kitab Al Isaguji (The Isagoge), tentang logika.
22)  Kitab Fi Ad Din (Liber de Mineralibus) tentang mineral.
23)  Kitab Al Qasidah Al Aniyyah, tentang prosa.
24)  Kitab Sadidiya, tentang pengobatan.
25)  Kitab Risalah At Thayar, tentang karangan roman.
26)  Kitab Danesh Nameh, tentang falsafah.
27)  Kitab Mujir. Kabir Wa Saghir, tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap.
28)  Salama wa Absal, Hayy ibn Yaqzan, al-Ghurfatul Gharabiyyah (Pengasingan di Barat) dan Risalatul Thayar (Risalah Burung).
B.     Penemuannya yang berhubungan dibidang sains 


Salah satu penemuannya yang berkenaan dengan sains :
Ó Bahasan mengenai konsep waktu, serta hubungannya dengan gerak dan materi dalam perspektif Ibnu Sina. Dalam hal ini adanya upaya bahwa sains tidak terlepas dari filsafat (metafisika). Ibnu Sina membahas “waktu” (zaman) dalam magnum Opus yang berjudul Al-Syifa. Namun, zaman dalam hal ini sesungguhnya lebih tepat diterjemahkan sebagai “periode”. Karena dalam pandangan Ibnu Sina yang mengawali waktu adalah gerak yang merupakan implikasi logis dari potensi dan aktualitas.

Gerak menurut Ibnu Sina adalah kesempurnaan pertama dari suatu potensi dari sisi potensinya untuk teraktual pada kesempurnaan pertama itu. Dengan kata lain, Ibnu Sina meyakini bahwa gerak adalah keluarnya maujud dari kondisi potensial menjadi aktual secara bertahap. Lebih lanjut terkait dengan maqulat, Ibnu Sina menyatakan bahwa :
·         “Gerak mewujud pada empat maqulat, yakni kualitas, kuantitas, ruang, dan posisi”.
·         “Gerak selalu terkait dengan enam hal: subjek yang bergerak, sebab penggerak, tempat yang menjadi lokasi gerak, asal gerak, tujuan gerak, dan waktu.”
·         “Waktu ada jika gerak ada, di mana gerak hanya ada pada empat tempat aksidental, bukan pada substansi.” Terkait dengan pernyataan tersebut, Mulla Shadra pada perkembangannya menyempurnakan pemikiran Ibnu Sina. Shadra berpandangan bahwa gerak (harakah) tidak hanya terbatas pada aksiden saja, tetapi juga substansi yang lebih dikenal dengan “harakah al-jauhariyah”.
·         “Waktu hanya ada di dunia materi”. Pandangan ini juga pada akhirnya dikritisi oleh filosof setelah Ibnu Sina, termasuk Shadra yang berkeyakinan bahwa waktu dan gerak tidak hanya pada tataran materi, tapi juga immateri. Ini merupakan konsekuensi logis dari pandangan harakah al-jauhariyah.
·         “Raga, bentuk, dan materi adalah substansi”. Jadi, bisa dikatakan bahwa materi adalah potensi yang berupa substansi yang teraktualisasi melalui Surrah dalam Al-Qur’an.
·         “Raga terkomposisi oleh materi yang bersifat potensial dan bentuk yang bersifat aktual”.

Dari pemaparan tersebut lebih terkait dengan gerak dan waktu, dalam kaca mata Ibnu Sina, mengindentifikasikan bahwa waktu tidak ada apabila tidak ada gerak. Pertama kali yang mewujud adalah ‘potensi’ kemudian ‘aktual’ (apabila ada yang mengaktualisasikan), lalu muncul ‘tujuan’ dan ‘materi’ yang meniscayakan adanya ‘gerak’, pada akhirnya berimplikasi pada eksistensi ‘waktu’. Alasan logis mengapa keberadaan diawali dengan potensi dan aktual adalah karena posisinya sebagai ma’lul (akibat) yang niscaya membutuhkan illat (sebab). Selain itu, zat selain Causa Prima (Sebab Penggerak) adalah terbatas, maka membutuhkan proses dalam mewujud.
Dalam al-Syifa Ibn Sina sudah memetakan terlebih jauh awal tentang ragam pandangan hakikat waktu, di antaranya sebagai berikut:
v  Tidak ada waktu (penganut empirisme).
v  Waktu hanya ilusi/konstruk mental (dianut oleh Immanuel dan Fritjof Capra).
v  Waktu adalah suatu substansi yang berdiri sendiri (Newton)
v  Waktu adalah relasi antara berbagai entitas (Leibniz, Einstein, dan Mario Bunge)
v  Waktu adalah aksiden (Leibniz, Einstein, dan Bunge)
v  Sains modern (fisika, baik mekanika klasik Newtonian ataupun fisika modern) selalu membahas waktu dalam konteks relasi benda-benda fisik, bukan waktu sebagai substansi yang berdiri sendiri, ataupun sebagai ilusi yang dikonstruksi mental manusia, apalagi menafikan waktu sama sekali. Hal ini sudah dibuktikan oleh Einstein dalam teori relativitas umumnya. Menurut teori ini, ruang dan waktu yang digabungkan menjadi ruang-waktu ditentukan oleh distribusi raga (bodies) dan medan (fields), bukan oleh gravitasi (sebagaimana menurut fisika klasik); dengan persamaan utama “G = kT“. G menunjukan tensor geometri, dan T menunjukan tensor materi. Jika T = 0 (kondisi vakum), maka fisika (sains) menyerah karena tidak bisa membuktikan pada eksperimentasi inderawi; dalam hal ini, metafisika mengambil peranan penting.
Filsafat waktu Ibnu Sina (penganut fisika Aristotelian) sesungguhnya memiliki relasi dengan sains modern (fisika). Faktanya, perkembangan fisika modern ini menunjukkan bahwa tidak ada diperbedaan antara fisika dan metafisika. Dalam artian, para saintis modern telah mengomfirmasi realitas immateri, di samping realitas materi. Jadi, “fisika Aristotelian telah menjadi metafisika di era modern dalam pandangan dunia. Namun, ontologi Ibnu Sina lebih dulu, lengkap yang berkaitan dengan sains modern. Filsafat Ibnu Sina bersangkutan dalam proses reintegrasi antara fisika dan metafisika.
Ó Beliau membahas dalam buku pertamanya yang membahas tulang (biologi) lebih spesifiknya tentang patah tulang. Diantaranya bahasan yang ada pada bukunya itu ialah faktor yang dapat memperlambat penyembuhan patah tulang. Faktor tersebut diantaranya seperti kurangnya pemakaian pelat di lokasi tulang yang patah, aktifitas yang berlebihan, kekurangan darah (anemia), dan adanya penyakit didalam tubuh.  Dengan karya-karyanya Ibnu Sina dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern. Dan karya-karyanya selalu dibandingkan dengan karya ilmuan kedokteran yakni Galen.

Jadi, berbanggalah guys yang semuslim karena dasar-dasar penemuan orang barat itu berawal dari ilmuan muslim.

Puisi-puisi Cinta

CINTA


Karya : NurIs

Diriku...
Terdiam membeku
Terteduk aneh menerpa dengan tiba-tiba
Pikiran kosong pun menemani
S'lalu terbayangkan sosok ciptaan Tuhan
Dan,
Terdengar bisikan kata-kata tak ku mengerti

Ku lihat ...
Dibola matanya, terpancar kasih
Senyum manis, hiasi bibirnya
canda tawa, terbayang slalu daripadanya
Taatapan matanya, begitu ramah
Dan,
Tak bisa kupungkiri
Tatapanku s'lalu padanya





CINTA UNTUK SAHABAT 

Karya : NurIs

Ku meneteskan air mata
Tanpa Sandiwara
Ku seperti mati
Dalam luapan api
Ku merasa sakit ...
Dalam sakit yang membara
Hatiku pedih ...
Seperti bumi terpisah dengan langit
Ku merasa rapuh ...
Seperti dedaunan yang kering
Tanpa dirimu ...
Ku seperti pasangan kekasih yang terpisah
Ku merasa kehilangan ...
Kehilangan cinta sejati
Darimu ...
Sahabat ...


Belajar dari Filosofi Meludah

Belajarlah kehidupan dari filosofi meludah, guys. Emang apa sih filosofi meludah itu?? Aneh sekali tabi'atnya kebalikan dari keran air??. Maksudnya ialah jika semakin besar membuka mulut maka semakin susah meludah tapi kalau kecil saja mulut kita terbuka maka mudah sekali ludah tersebut melesat keluar. coba praktekan kalau tak percaya!!!
nah, didunia ini terkadang ada yang seperti filosofi meludah. semakin ngebet, semakin pengen, semakin maksa, semakin ngaku suka, dan sebagainya. Maka dia akan semakin menjauh dan tidak terjangkau olehmu. Tapi saat dijalani dengan tulus, tidak berharap banyak maka urusan akan lancar.
_Tere Liye